
Sektor manufaktur disebut masih menjadi Motor Ekonomi Nasional di tengah munculnya anggapan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi dini. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan tudingan tersebut tidak sesuai dengan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang justru menunjukkan kontribusi industri pengolahan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan industri pengolahan masih memegang peran penting sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan catatan BPS, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan terhadap PDB nasional mengalami kenaikan dari 17,92 persen pada triwulan II-2022 menjadi 19,20 persen pada triwulan I-2026.
Menurut Febri, peningkatan kontribusi tersebut menjadi bukti bahwa sektor manufaktur tetap menjadi Motor Ekonomi Nasional dan tidak sedang mengalami penurunan seperti yang banyak diasumsikan sebagian pihak.
“Kami berulang kali menegaskan bahwa sektor manufaktur Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi. Data BPS justru menunjukkan kontribusinya terhadap ekonomi nasional meningkat,” kata Febri dalam keterangannya di Jakarta.
Ia menilai kesimpulan yang menyebut manufaktur melemah muncul akibat kesalahan membaca data deret waktu PDB industri pengolahan periode 2005 hingga 2025. Banyak pihak disebut tidak memahami adanya perubahan konsep klasifikasi industri dan metode perhitungan PDB yang diterapkan BPS dalam beberapa periode berbeda.
Febri menjelaskan, pada masa sebelumnya terdapat beberapa subsektor yang masih masuk dalam kategori industri pengolahan. Namun sejak 2010, sejumlah subsektor seperti pengelolaan sampah, informasi dan komunikasi, hingga jasa lainnya dipisahkan menjadi sektor tersendiri.
Perubahan Metode PDB Dinilai Picu Salah Persepsi
Perubahan klasifikasi tersebut membuat nilai kontribusi industri pengolahan terlihat menurun secara statistik karena tidak lagi menghitung subsektor yang dipisahkan. Selain itu, metode penghitungan PDB juga berubah dari berbasis harga produsen menjadi harga dasar.
Kondisi inilah yang dinilai memicu kesalahan persepsi terhadap posisi manufaktur sebagai Motor Ekonomi Nasional. Padahal, secara tren terbaru, kontribusi industri pengolahan justru menunjukkan penguatan.
Febri menegaskan data PDB dari periode berbeda tidak bisa dibandingkan secara langsung karena memakai konsep dan metode penghitungan yang tidak sama. Karena itu, ia meminta analisis mengenai deindustrialisasi dilakukan secara lebih hati-hati agar tidak menghasilkan kesimpulan keliru.
Kemenperin optimistis sektor manufaktur tetap akan menjadi Motor Ekonomi Nasional dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan meningkatnya investasi industri dan penguatan hilirisasi di berbagai sektor strategis.




