Investasi Mengalir, Industri Manufaktur Nasional Disiapkan Hadapi Tantangan Global 2026

0
68
Investasi Mengalir, Industri Manufaktur Nasional Disiapkan Hadapi Tantangan Global 2026
Investasi Mengalir, Industri Manufaktur Nasional Disiapkan Hadapi Tantangan Global 2026 (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Industri manufaktur nasional kembali menjadi fokus perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Meski menghadapi tekanan eksternal dan tantangan domestik, sektor ini dinilai tetap memiliki fondasi kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah pun optimistis kinerja industri manufaktur nasional dapat terus terjaga sepanjang 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa laju pertumbuhan manufaktur masih mampu bertahan di atas lima persen. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan peran strategis sektor ini sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/1), ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga momentum positif tersebut.

Penguatan Struktur dan Target Pertumbuhan 2026

Agus menjelaskan bahwa kebijakan pengembangan sektor manufaktur tahun ini berorientasi pada penguatan struktur industri agar lebih berkelanjutan. Pemerintah menitikberatkan pada peningkatan nilai tambah di dalam negeri, pendalaman struktur industri, hingga optimalisasi keterkaitan antarsektor.

Pada 2026, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 5,51 persen. Target ini sekaligus menegaskan posisi industri manufaktur nasional sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia.

PT Mitra Mortar indonesia

Kementerian Perindustrian juga mencatat adanya 1.236 perusahaan industri yang  memasuki tahap pembangunan pada 2025 dan direncanakan memulai produksi perdana pada 2026. Rencana operasi fasilitas baru ini diperkirakan mampu menyerap 218.892 tenaga kerja. Sektor pengolahan nonmigas pun mencatat investasi sebesar Rp551,88 triliun, dengan nilai investasi di luar tanah dan bangunan mencapai Rp444,25 triliun.

Agus menilai penambahan kapasitas produksi pada 2026 akan memperkuat struktur manufaktur sekaligus menjaga ketersediaan pasokan industri. Pemerintah terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, dan penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir agar produksi nasional tetap efisien dan kompetitif.

Dominasi Pasar Domestik dan Arah Kebijakan Permintaan

Dari sisi permintaan, pasar domestik masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 80 persen, sedangkan ekspor menyumbang sekitar 20 persen. Pemerintah menargetkan penguatan pasar dalam negeri melalui kebijakan substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hingga optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk lokal. Dukungan terhadap industri kecil dan menengah (IKM) juga diperluas agar pelaku usaha dapat masuk ke rantai pasok industri manufaktur nasional.

Beberapa subsektor diperkirakan mencatat pertumbuhan signifikan, seperti industri logam dasar yang terdorong oleh pembangunan infrastruktur dan hilirisasi. Industri makanan dan minuman juga tetap menjadi kontributor terbesar PDB manufaktur karena permintaan domestik yang stabil. Selain itu, industri kimia, farmasi, dan obat-obatan diproyeksikan meningkat seiring dengan kebutuhan produk kesehatan dan bahan baku kimia industri.

Untuk pasar ekspor, Kementerian Perindustrian menargetkan kontribusi ekspor produk pengolahan nonmigas pada 2026 mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional. Upaya yang dilakukan meliputi diversifikasi pasar, penguatan kerja sama perdagangan, serta peningkatan daya saing produk lokal di pasar global.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini ditargetkan menyerap 14,68 persen tenaga kerja nasional pada 2026. Produktivitas pekerja diperkirakan mencapai Rp126,20 juta per orang per tahun. Untuk mendukung target tersebut, investasi industri pengolahan nonmigas dipatok mencapai Rp852,90 triliun pada 2026.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan