Industrialisasi Sektor Farmasi Dorong Indonesia Jadi Produsen Utama Bahan Baku Obat

0
61
Industrialisasi Sektor Farmasi Dorong Indonesia Jadi Produsen Utama Bahan Baku Obat
Industrialisasi Sektor Farmasi Dorong Indonesia Jadi Produsen Utama Bahan Baku Obat (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Upaya pemerintah memperkuat Industrialisasi Sektor Farmasi kembali ditegaskan oleh Kemenperin melalui serangkaian kebijakan yang diarahkan untuk mendorong kemandirian bahan baku nasional. Pemerintah menilai ketahanan industri kesehatan hanya dapat tercapai apabila Indonesia mampu memproduksi bahan baku sendiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam dalam negeri. Selain farmasi, sektor kosmetik juga menjadi fokus pengembangan karena memiliki rantai pasok yang saling berkaitan.

Komitmen tersebut menjadi tema utama dalam penyelenggaraan Indonesia Pharmaceuticals and Cosmetics for Sustainability (IPCS) 2025 di Jakarta. Acara tahunan ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang kolaborasi antara pelaku industri, akademisi, peneliti, dan masyarakat pemerhati sektor kesehatan. Lewat berbagai seminar, workshop, serta forum temu usaha, pemerintah mendorong lahirnya inovasi baru yang dapat memperkuat fondasi industri farmasi dan kosmetik nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa Indonesia harus bergerak menuju posisi produsen utama, bukan hanya sekadar pasar bagi produk kesehatan global. Menurutnya, potensi bahan baku lokal yang melimpah—mulai dari tanaman obat hingga minyak atsiri—harus menjadi modal utama dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Penguatan Riset, Investasi, dan Rantai Pasok Industri

Dalam kesempatan tersebut, Menperin mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen bahan baku farmasi masih bergantung pada impor, terutama dari India dan Tiongkok. Namun ia menekankan bahwa industri hilir sebenarnya sudah cukup kuat, terbukti dengan 95 persen obat jadi diproduksi di dalam negeri. Kondisi ini, menurutnya, menjadi peluang besar untuk mempercepat Industrialisasi Sektor Farmasi sehingga Indonesia tidak terus berada pada posisi ketergantungan.

PT Mitra Mortar indonesia

Menperin turut menyoroti keberhasilan beberapa bahan aktif lokal yang mampu diterima pasar global. Salah satunya adalah bahan aktif berbasis tanaman meniran yang telah diekspor ke Inggris. Ia menilai pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa Indonesia telah mampu memenuhi standar internasional, sekaligus menunjukkan bahwa riset dan inovasi di dalam negeri mulai diakui dunia.

Lebih jauh, ia memaparkan potensi besar dari tanaman obat dan komoditas minyak atsiri yang tersebar di berbagai daerah. Jika dimaksimalkan, kekayaan alam tersebut bisa memperkuat struktur industri farmasi dari hulu ke hilir, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar untuk perekonomian nasional.

Sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tumbuh 11,65 persen pada triwulan III 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen. Nilai investasi mencapai Rp65,9 triliun, sementara ekspor menembus USD 15,22 miliar. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 17,39 persen dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.

Menperin menegaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan pentingnya menjaga momentum industrialisasi. Ia menyebut penguatan rantai pasok, riset, serta investasi harus berjalan seiring agar Industrialisasi Sektor Farmasi benar-benar menjadi motor penggerak bagi kemandirian industri kesehatan Indonesia.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan