Dorong Hilirisasi Industri, PTFI Bangun Smelter Raksasa di KEK Gresik

0
197
Dorong Hilirisasi Industri, PTFI Bangun Smelter Raksasa di KEK Gresik
Dorong Hilirisasi Industri, PTFI Bangun Smelter Raksasa di KEK Gresik (Dok Foto: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia)
Pojok Bisnis

Pemerintah telah memperkenalkan kebijakan hilirisasi industri yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional sekaligus menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Dalam mendukung kebijakan ini, peran off-takers domestik, termasuk pengguna bahan baku tembaga, sangat penting.

Saat ini, pasokan produk hilirisasi tembaga di Indonesia masih bergantung pada impor, seperti copper tube, copper tape, evaporator tembaga, dan komponen yang dibutuhkan dalam produksi kendaraan listrik (EV) seperti kabel, inverter, dan baterai. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Pemerintah terus mendorong industri pengolahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk menjalankan hilirisasi.

“Kita beri apresiasi kepada manajemen yang luar biasa. Dan pabrik yang dibangun juga luar biasa. Ini sangat tepat waktu, karena saat ini energi terbarukan menjadi tren dan membutuhkan mineral kritis, salah satunya adalah tembaga,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat meresmikan operasi Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di KEK Gresik, Kamis (27/06).

Smelter Tembaga Terbesar di Dunia

Smelter PTFI adalah fasilitas pemurnian tembaga dengan desain jalur tunggal terbesar di dunia, dengan kapasitas pemurnian mencapai 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Proyek ini terletak di lahan seluas 100 hektar di KEK Java Integrated Industrial Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, dengan nilai investasi kumulatif mencapai Rp58 triliun atau sekitar USD3,7 miliar. Investasi ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi perusahaan konstruksi dalam negeri, tetapi juga akan menciptakan efek berganda bagi masyarakat di Kabupaten Gresik.

PT Mitra Mortar indonesia

Bersama dengan smelter yang dioperasikan PT Smelting, kedua smelter ini akan memurnikan 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dengan produksi sekitar 600.000 ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak per tahun. Dengan beroperasinya smelter ini, seluruh konsentrat tembaga yang diproduksi oleh PTFI dapat diproses dan dimurnikan di dalam negeri, demikian juga lumpur anoda dari PT Smelting.

“Ini adalah pertama kalinya integrasi tambang hingga produk akhir dilakukan. Dengan integrasi ini, produksi emas sebesar 50 ton akan membayar royalti. Karena proses ini terintegrasi dari tambang hingga hilir, pendapatan pemerintah akan meningkat,” ungkap Menko Airlangga.

Dorongan untuk Ekosistem Hilirisasi

Kehadiran PTFI di KEK Gresik diharapkan dapat menjadi salah satu pemicu pembentukan kawasan dengan ekosistem yang mendukung hilirisasi, terutama untuk kendaraan listrik. Hingga Maret 2024, KEK Gresik telah mencatatkan nilai investasi sebesar Rp75,2 triliun dan menyerap lebih dari 35.000 tenaga kerja.

“Ke depan, Indonesia akan mampu meningkatkan ekspornya. Jika ekspor kita kuat, maka rupiah kita akan stabil. Sebagai contoh, dari nikel dan kelapa sawit, ekspor kita mencapai USD55 miliar, sementara impor minyak sebesar USD40 miliar. Jadi, sebenarnya terjadi lindung nilai alami,” jelas Menko Airlangga.

Selain meresmikan operasional smelter PTFI, Menko Airlangga dan rombongan juga meninjau kawasan smelter PTFI dengan mengunjungi area jetty, anode casting, dan central control building. Dalam konferensi pers, Menko Airlangga juga menyampaikan kepada media tentang peran operasional smelter PTFI dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan