Harga Bitcoin Tergoyang di Level USD64.000, Minat Beli Melemah dan Regulasi AS Masih Membayangi

0
13
Harga Bitcoin Tergoyang di Level USD64.000, Minat Beli Melemah dan Regulasi AS Masih Membayangi
Harga Bitcoin Tergoyang di Level USD64.000, Minat Beli Melemah dan Regulasi AS Masih Membayangi (Foto Ilustrasi)
Pojok Bisnis

Harga bitcoin tergoyang pada perdagangan akhir pekan setelah pergerakannya kembali berfluktuasi di kisaran USD64.000. Kondisi ini mencerminkan masih berhati-hatinya pelaku pasar dalam mengambil posisi, seiring melemahnya arus masuk stablecoin ke bursa kripto dan belum adanya kepastian terkait regulasi aset digital di Amerika Serikat.

Mengacu pada data perdagangan Binance yang dikutip dari Investing pada Minggu (26/7/2026), Bitcoin diperdagangkan di level USD64.332 atau naik tipis sekitar 0,25 persen dalam 24 jam terakhir. Sepanjang sesi perdagangan, aset kripto terbesar di dunia itu bergerak di rentang USD63.703 hingga USD65.396 sebelum kembali stabil di sekitar USD64.360.

Meski sempat menunjukkan pemulihan, pergerakan tersebut belum mampu menghapus tren pelemahan yang telah berlangsung sejak pasar memasuki fase bearish pada Oktober lalu. Saat ini, harga Bitcoin masih berada sekitar 50 persen di bawah rekor tertingginya.

Arus Stablecoin Turun, Harga Bitcoin Tergoyang

Analis CryptoQuant yang dikenal dengan nama Darkfost menilai salah satu faktor utama yang membuat harga bitcoin tergoyang adalah berkurangnya aliran stablecoin menuju bursa perdagangan. Kondisi tersebut biasanya menjadi sinyal bahwa investor belum agresif menambah eksposur terhadap aset kripto.

PT Mitra Mortar indonesia

Dalam laporan CryptoQuant, rata-rata arus masuk USDT dan USDC ke jaringan Ethereum selama 30 hari hanya mencapai sekitar USD2,3 miliar. Nilai itu jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan sebesar USD3,7 miliar. Sebagai perbandingan, ketika Bitcoin mencetak rekor harga tertinggi, aliran USDT sempat mencapai USD5,6 miliar, sedangkan USDC berada di kisaran USD4,3 miliar.

Penurunan arus dana tersebut mengindikasikan semakin sedikit modal yang siap digunakan untuk melakukan pembelian di bursa. Walaupun lonjakan stablecoin sering kali menjadi indikator yang muncul setelah permintaan meningkat, kondisi saat ini tetap mencerminkan sentimen pasar yang masih cenderung berhati-hati.

Selain sentimen pasar, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Rancangan Digital Asset Market Clarity Act masih menghadapi hambatan politik di Senat sehingga peluang pengesahannya sebelum masa reses dinilai semakin kecil.

Rancangan aturan tersebut sebenarnya diharapkan menjadi landasan hukum yang lebih jelas bagi industri aset digital, termasuk pengawasan token kripto, stablecoin, hingga sektor keuangan terdesentralisasi atau decentralized finance (DeFi).

Di sisi lain, perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin juga mulai melakukan penyesuaian strategi. Salah satunya dengan memperkenalkan metode baru untuk menghitung nilai cadangan bersih yang memperhitungkan kepemilikan Bitcoin, kas, utang konversi, serta saham preferen.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan