Upaya stabilkan rupiah terus diperkuat oleh otoritas moneter dan fiskal di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Bank Indonesia bersama pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah terpadu guna menjaga nilai tukar tetap terkendali sekaligus memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.
Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa strategi untuk stabilkan rupiah dilakukan melalui penguatan arus modal masuk serta pengendalian tekanan dari aliran dana keluar. Salah satu instrumen utama yang diandalkan adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang dirancang untuk menarik minat investor sekaligus menjadi penopang likuiditas di pasar keuangan domestik.
Selain itu, Bank Indonesia juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sepanjang tahun berjalan, nilai pembelian tersebut telah mencapai Rp123,1 triliun. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus mendukung upaya stabilkan rupiah di tengah volatilitas global.
Perry menekankan bahwa koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekonomi. Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan OJK terus memperkuat sinergi, termasuk membuka peluang kebijakan tambahan seperti buyback SBN guna menjaga kepercayaan pasar.
Strategi Intervensi dan Pengawasan Diperketat
Di sisi lain, kebijakan untuk stabilkan rupiah juga ditempuh melalui pengendalian permintaan valuta asing di dalam negeri. Bank Indonesia menetapkan batas baru pembelian dolar Amerika Serikat bagi individu, dari sebelumnya USD100.000 menjadi USD50.000 per orang per bulan. Kebijakan ini bertujuan menekan spekulasi sekaligus menjaga keseimbangan pasar valas domestik.
Langkah intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga diperluas ke pasar offshore. Bank Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi, terutama yang memiliki kebutuhan valas tinggi. Pengawasan ini dilakukan secara intensif dengan melibatkan OJK agar potensi tekanan terhadap nilai tukar dapat diantisipasi lebih dini.
Perry juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menempatkan pengawas langsung di sejumlah bank dengan aktivitas pembelian dolar tinggi. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan transaksi berjalan sesuai kebutuhan riil dan tidak memicu gejolak yang dapat mengganggu upaya stabilkan rupiah.
Dukungan Pemerintah dan Diversifikasi Pembiayaan
Sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah terus berkoordinasi erat dengan bank sentral, terutama dalam memastikan likuiditas tetap terjaga dan aktivitas ekonomi berjalan optimal.
Pemerintah juga tengah menyiapkan stimulus tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat fundamental ekonomi sekaligus mendukung upaya stabilkan rupiah dalam jangka menengah.
Selain itu, strategi diversifikasi pembiayaan mulai digencarkan melalui rencana penerbitan obligasi Panda bonds di pasar Tiongkok. Skema ini menawarkan alternatif sumber pendanaan dengan bunga yang lebih kompetitif, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi turut menyoroti bahwa tekanan di pasar keuangan domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara.
Menurutnya, selama fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, arus modal berpotensi kembali masuk ke dalam negeri. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa berbagai langkah yang dilakukan otoritas berpeluang besar dalam menjaga stabilitas dan stabilkan rupiah ke depan.





