Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Industri Nasional Tunjukkan Sinyal Pemulihan

0
186
Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Industri Nasional Tunjukkan Sinyal Pemulihan
Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Industri Nasional Tunjukkan Sinyal Pemulihan (Dok Foto: Kemenperin)
Pojok Bisnis

Kinerja industri pengolahan Tanah Air kembali membuktikan bahwa Sektor Manufaktur Tetap Tangguh meski dinamika global dan domestik terus berubah. Hal ini tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2025 yang berada di level 53,02. Angka tersebut masih menandakan fase ekspansi, meskipun sedikit melambat dibanding Agustus lalu yang mencapai 53,55.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, kinerja bulan September 2025 justru lebih baik. IKI tercatat naik 0,54 poin dari posisi September 2024 yang berada di angka 52,48. Fakta ini menguatkan keyakinan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Perubahan Signifikan di Sektor Produksi

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menuturkan bahwa perubahan terbesar terlihat pada variabel produksi. Pada Agustus 2025, sebagian besar subsektor masih dalam tekanan, dengan 19 subsektor kontraksi dan hanya empat yang mampu mencatat ekspansi. Namun, situasi berbalik di bulan September.

“Tercatat ada 12 subsektor industri yang masuk zona ekspansi, sementara yang mengalami kontraksi tersisa 11 subsektor. Aktivitas produksi meningkat, salah satunya didorong permintaan yang membaik serta ketersediaan bahan baku dan dukungan teknologi,” ujarnya di Jakarta, Selasa (30/9).

PT Mitra Mortar indonesia

Delapan subsektor bahkan berhasil berbalik arah dari kontraksi menjadi ekspansif. Beberapa di antaranya adalah industri kulit dan alas kaki, industri pengolahan kayu, bahan kimia, farmasi, kendaraan bermotor, hingga furnitur. Perubahan status tersebut dipicu faktor musiman, meningkatnya kebutuhan pasar, serta penurunan persediaan yang membuat produsen meningkatkan produksi.

Meski demikian, perlambatan IKI tetap dipengaruhi turunnya indeks variabel pesanan dan persediaan. Pesanan pada September berada di level 53,79, turun dari 57,38 di bulan sebelumnya. Sedangkan persediaan produk juga terkoreksi menjadi 55,86, meski masih dalam zona ekspansif.

“Memang terjadi kontraksi pada variabel produksi dalam beberapa bulan terakhir, tapi perbaikan signifikan di September memberi sinyal pemulihan. Pelaku usaha tampaknya mulai lebih percaya diri, meski tetap berhati-hati melihat arah permintaan,” jelas Febri.

Kontribusi Besar ke PDB

Secara keseluruhan, 21 subsektor yang berada di jalur ekspansi menyumbang hampir 97,8 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2025. Sektor dengan kinerja terbaik antara lain industri minuman serta pencetakan dan reproduksi media rekaman, didukung oleh kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan.

Namun, ada juga subsektor yang tertekan, seperti industri komputer, elektronik, dan optik. Penurunan ini dipicu lemahnya permintaan domestik dan ekspor, serta derasnya impor produk murah, terutama dari Tiongkok.

Sementara itu, subsektor jasa reparasi mesin juga mengalami kontraksi akibat berkurangnya pesanan dari industri utama, khususnya otomotif. Menurut Febri, sifat bisnis subsektor ini yang bergantung pada jadwal perawatan dan overhaul membuatnya sangat fluktuatif.

Dengan hasil tersebut, Kemenperin menegaskan bahwa Sektor Manufaktur Tetap Tangguh menghadapi tekanan global. Meskipun beberapa subsektor masih berjuang, mayoritas industri tetap dalam jalur ekspansi, menandakan prospek jangka menengah yang cukup positif.

“Yang terpenting, tren September memperlihatkan perbaikan signifikan. Ini menjadi sinyal bahwa industri nasional tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi dan bersiap untuk terus tumbuh,” tutup Febri.

DISSINDO
Top Mortar Semen Instan